Banten

Jangan Keliru! Ini Perbedaan Mendasar Santet, Tenung, dan Pelet yang Jarang Diketahui

Abdurahman | 15 Agustus 2026, 19:28 WIB
Jangan Keliru! Ini Perbedaan Mendasar Santet, Tenung, dan Pelet yang Jarang Diketahui

AKURAT BANTEN-Di era serba digital dan penuh logika seperti saat ini, dunia supranatural di Indonesia seolah memiliki ruangnya sendiri yang tak tersentuh zaman.

Dalam obrolan sehari-hari, masyarakat kita sering kali menyamaratakan istilah "santet", "tenung", dan "pelet".

Padahal, secara praktik dan filosofi, ketiganya memiliki "jalur" serangan, media, dan tujuan yang sangat kontras.

Banyak orang terjebak dalam pemahaman yang salah kaprah.

Menganggap semuanya sebagai satu paket "ilmu hitam" justru membuat kita abai terhadap mekanisme dan bahaya masing-masing. Mari kita bongkar fakta ini dari sudut pandang yang lebih tajam dan objektif.

Baca Juga: Bukan Sekadar Klenik, Ini Alasan Mengapa Mantra Pelet Jawa Timur Dipercaya Bisa Menembus Pikiran

1. Santet: Serangan Jarak Jauh yang Tak Berjejak

Santet sering dianggap sebagai bentuk puncak dari dendam personal.

Secara teknis, santet adalah cara penyerangan jarak jauh yang menggunakan energi negatif (yang sering dikaitkan dengan persekutuan supranatural) untuk membuat target celaka.

Dalam melancarkan aksinya, seorang praktisi santet biasanya menggunakan media perantara seperti kain, boneka, jerami, silet, hingga beling kaca. Keunggulan sekaligus kengerian santet terletak pada cara kerjanya yang "halus".

Santet bekerja di balik bayang-bayang. Seringkali, saat target merasakan sakit fisik yang luar biasa, dunia medis pun dibuat buntu karena tidak ditemukan luka fisik atau keanehan klinis. Santet tidak meninggalkan jejak, menjadikannya senjata balas dendam yang sangat efisien namun sulit dideteksi.

Baca Juga: Misteri Bulu Perindu Kalimantan: Benda Sekecil Lidi yang Dipercaya Bisa Pikat Pasangan hingga Lariskan Bisnis!

2. Tenung: Teror Fisik yang Menyerang Langsung

Jika santet bersifat energi, maka tenung adalah pengembangan ilmu hitam yang jauh lebih agresif dan berwujud fisik.

Tenung menggunakan perantara, baik benda hidup maupun mati, untuk memberikan "serangan" yang bisa dirasakan secara langsung oleh indra korban.

Ciri khas yang paling sering dilaporkan dalam kasus yang diduga berkaitan dengan tenung adalah munculnya benda-benda asing di tempat-tempat yang tidak masuk akal.

Saat seseorang diserang tenung, korban sering mendapati kawat, paku, silet, atau pecahan beling di dalam makanannya.

Ini bukan lagi sekadar teror batin, melainkan serangan fisik yang bertujuan untuk menyiksa korban secara nyata.

Baca Juga: Niat Tegur Warga Bakar Sampah, Ketua RT di Pamulang Malah Jadi Tersangka: Begini Kronologi Lengkapnya

3. Pelet: Manipulasi Emosi dan Alam Bawah Sadar

Berbeda dengan dua jenis sebelumnya yang bertujuan melukai atau menyiksa, pelet memiliki motif yang sangat spesifik: penguasaan hati dan emosi.

Pelet bekerja melalui manipulasi alam bawah sadar seseorang agar menjadi tergila-gila secara tidak wajar kepada pengirimnya.

Banyak orang salah paham mengira pelet bisa mengenai siapa saja secara otomatis.

Faktanya, pelet cenderung memerlukan "koneksi" awal—korban biasanya sudah mengenal atau pernah berinteraksi dengan si pengirim.

Efeknya sangat manipulatif; korban akan merasa ketergantungan emosional yang ekstrem, kehilangan logika, dan merasa tidak bisa hidup tanpa orang yang mengirimkan pelet tersebut.

Baca Juga: Prediksinya 100 Persen Akurat! Sosok di Balik Strategi Hukum Jokowi Hadapi Tudingan Ijazah Palsu

Mengapa Pemahaman Ini Penting?

Memahami perbedaan antara santet, tenung, dan pelet bukan berarti mengajak kita tenggelam dalam mistisisme.

Sebaliknya, literasi mengenai pola-pola ini justru membuat kita lebih waspada dan logis dalam menyikapi fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Di tengah derasnya arus informasi, memisahkan antara mitos, realitas budaya, dan praktik yang merugikan adalah kunci agar kita tidak mudah terhasut atau terjebak dalam prasangka yang tidak berdasar.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman